Kamis, 29 Desember 2011

Biaya Bahan Baku


Biaya Bahan Baku
Unsur biaya yang membentuk harga pokok bahan baku yang dibeli
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi.  Bahan baku dapat di peroleh dari pembelian lokal,impor atau dari pengelolahan sendiri. Dalam memperoleh bahan baku mengeluarkan harga beli bahan baku, biaya-biaya pembelian, pengudangan, dan biaya perolehan lain.
Sebelum di bahas unsur-unsur biaya yang membentuk harga pokok bahan baku yang di beli berikut diuraikan sistem pembelian lokal bahan baku.
Dalam sisem pembelian lokal bahan baku terdiri dari berbagai macam prosedur yaitu:
1.        Prosedur permintaan pembelian bahan baku.
2.        Prosedur order pembelian
3.        Prosedur penerimaan bahan baku
4.        Prosedur pencatatan penerimaan bahan baku di bagian gudang
5.        Prosedur pencatatan utang yang timbul dari pembelian bahan baku

Biaya yang di perhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang di beli.

harga beli (harga yang tercantum dalam faktur pembelian)
biaya-biaya pembelian
biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku            +
Harga pokok bahan baku

Perlakuan terhadap biaya angkutan ini dapat dibedakan menjadi :
1.      Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan haga pokok bahan baku yang dibeli.
2.      Biaya angkutan tidak diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli, maka diperlakukan sebagai unsur biaya Overhead Pabrik.

A.     Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan haga pokok bahan baku yang dibeli.
1.      Perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku yang dibeli
2.      Perbandingan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli
3.      Biaya angkutan diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli berdasarkan tarif yang di tentukan dimuka.
Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya angkutan atas dasar tariff dan biaya angkutan yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut :
(a).  Pembebanan biaya angkutan kepada bahan baku yang di beli atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah sb :
 persediaan bahan baku                                                                 xx
(tarif biaya angkutan x dasar pembebanan)
          Biaya angkutan                                                                                       xx
(b).  Pencatatan biaya angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan adalah sebagai berikut :
Biaya angkutan                                                                               xx
          Kas                                                                                                          xx
(c). Apabila pada akhir periode terdapat selisih biaya angkutan yang di bebankan, yang jumlahnya material, maka selisih tersebut dibagikan ke rekening persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, persediaan produk jadi, dan harga pokok penjualan dengan jurnal sbb:
Persediaan bahan baku                                                                                xx
persediaan bahan dalam proses                                                                   xx
persediaan produk jadi                                                                                 xx
harga pokok penjualan                                                                                 xx
          biaya angkutan                                                                                  
             xx

Biaya Unit Organisasi Yang Terkait Dalam Perolehan Bahan Baku
Jika biaya pembelian dibebankan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tarif, maka perhitungan tarif biaya pembelian dilakukan sebagai berikut :
1.        Jumlah biaya tiap bagian yang terkait dalam transaksi pembelian bahan baku tersebut diperkirakan selama satu tahun anggaran.
2.        Ditentukan dasar pembebanan biaya tiap-tiap bagian tersebut dan ditaksir berapa jumlahnya dalam tahun anggaran.
3.        Ditentukan tarif pembebanan biaya tiap-tiap bagian tersebut dengan cara membagi baiaya tiap bagian dengan dasar pembebanan.
Jurnal pembebanan biaya pembelian kepada harga pokok bahan baku atas dasar tarif adalah sebagai berikut :
Persediaan                                                                                          xx
            Biaya bagian pembelian yang dibebankan                                                     xx
            Biaya bagian penerimaan yang dibebankan                                                  xx
            Biaya bagian gudang yang dibebankan                                                         xx
            Biaya bagian akuntansi persediaan yang dibebankan                                              xx



dasar pembebanan biaya pembelian tiap bagian yang terkait dalam pengadaan bahan baku.
Bagian             Dasar Pembebanan                               Tarif Pembebanan Biaya Pembeliaan
Pembelian      Jumlah Frekuensi Pembelian Atau        Tarif Per Transaksi Pembelian Atau
                       Volume Pembelian                                 Tarif Setiap Jumlah Harga Faktur Pembelian
Penerimaan    Jumlah Macam Bahan Yang Diterima  Tarif Per Macam Bahan Yang Diterima
Gudang          Jumlah Macam Bahan,                          Tarif Per Macam Bahan; Permeter
                       Kuantitas, Atau Nilai Rupiah            
   Kubik Atau Pernilai Rupiah Bahan Baku
                                                                                     
 Yang Disimpan Digudang
Akuntansi      Jumlah Frekuensi Pembelian                 Tarif Per Transaksi Pembelian.
Persediaan

Unsur Biaya Yang Diperhitungkan Dalam Harga Pokok Bahan Baku Yang Di Impor
            Dalam perdagangan luar negeri, harga barang yang disetujui bersama antara pembeli dan penjual akan mempengaruhi biaya-biaya yang menjadi tanggungan pembeli. Bahan baku dapat diimpor dengan syarat harga :
-          Free alongside ship (FAS)
-          Free on board (FOB)
-          Cost and freight (C & F) : pembeli hanya menanggung biaya-biaya untuk mengeluarkan bahan baku dari pelabuhan pembeli dan biaya-biaya lain sampai dengan barang tersebut di terima di gudang pembeli
-          Cost , insurance, and freight (C.I&F) : biaya angkutan laut beserta asuransi lautnya sudah di perhitungkan oleh penjual dalam harga barang

Harga pokok bahan baku yang di impor terdiri dari :
Harga FOB                                                                                           Rp xx
            Angkutan laut (ocean freight)                                                                     xx 
            Harga C & F                                                                                         Rp xx
            Biaya asuransi (marine insurance)                                                             xx  
            Harga C.I & F                                                                                                 Rp xx
            biaya-biaya bank                                                                                       xx
            bea masuk & biaya pabean lainnya                                                           xx
            pajak penjualan impor                                                                                           xx
            biaya gudang                                                                                             xx
            biaya expedisi muatan kapal laut (E.M.K.L)                                             xx
            biaya transport lokal                                                                                  xx 
            harga pokok bahan baku                                                                     Rp xx
 

METODE PENCATATAN BIAYA BAHAN BAKU
Terdapat dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi, yaitu metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan metode persediaan fisik (physical inventory method).
Dalam metode mutasi persediaan (perpetual), setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan, sedangkan dalam metode fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari pembelian saja yang dicatat dan mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Metode persediaan fisik sangat cocok digunakan dalam penentuan biaya bahan baku perusahaan yang harga pokok produksinya  dikumpulkan dengan metode harga pokok proses , sedangkan metode persediaan digunakan dalam perusahaan yang harga pokok produksi nya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.

1.         Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification Method)
Setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap pembelian bahan baku yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga per satuan bahan baku yang ada di gudang harus dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda pada harga bahan tersebut. Metode ini merupakan metode yang paling teliti dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, namun sering kali tidak praktis.
2.         Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Ø  Dalam metode ini, penentuan biaya bahan baku beranggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang pertama masuk gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali dipakai. Yang jadi perhatian adalah anggapan aliran biaya tidak harus sesuai dengan aliran fisik bahan baku dalam produksi.

3.    Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Ø  Dalam metode LIFO ini, penentuan harga pokok yang dipakai dalam produksi beranggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir masuk persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga pokok atas bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi.

4.    Metode Rata – Rata Bergerak (Moving Average Method)
Ø  Persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata – rata nya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembeliaan yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga pokok rata – rata persediaan yang ada di gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata – rata per satuan yang baru. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata – rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.

5.    Metode Biaya Standar
Ø  Bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebesar harga standar (standard price), yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi pada masa yang akan datang. Harga standar merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu. Jurnal yang dibuat saat pembelian bahan baku sebagai berikut:
Persediaan Bahan Baku                     xxx
            Selisih Harga                                                  xxx

Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar
                                    Selisih Harga                                      xxx
                                                Utang Dagang                                     xxx
Selisih harga standar dengan harga sesungguhnya tampak dalam rekening Selisih Harga. Setiap akhir bulan saldo rekening Selisih Harga dibiarkan tetap terbuka, dan disajikan dalam laporan keuangan bulanan. Hal ini dilakukan karena saldo rekening Selisih Harga setiap akhir bulan mungkin saling mengkompensasi, sehingga pada akhir tahun saldo rekening Selisih harga perlu ditutup ke rekening lain. Pemakaian bahan baku dalam produksi dicatat sebesar hasil kali kuantitas bahan baku sesungguhnya yang dipakai dengan harga standarnya.
6.         Metode Rata – Rata Harga Pokok Bahan Baku pada Akhir Bulan\
Ø  Dalam metode ini, pada akhir bulan dilakukan penghitungan harga pokok rata – rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok per satuan ini kemudian akan digunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi di bulan selanjutnya.

     I.     Masalah-masalah khusus yang berhubungan dengan bahan baku
1.        SISA BAHAN (SCRAP MATERIALS)
Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakuakan sebagai :
  1. Pengurangan biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang menghasilkan sisa bahan tersebut.
  2. Pengurangan terhadap biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi.
  3. Penghasilan di luar usaha (other income)


Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Biaya Bahan
Baku yang Dipakai Dalam Pesanan yang Menghasilkan Sisa bahan Tersebut.
            Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa bahan adalah sebagai berikut :
            Kas/piutang dagang                                                    xxx
                        Barang Dalam proses-biaya bahan baku                   xxx
Hasil penjualan sisa bahan ini juga dicatat dalam kartu pokok pesanan yang bersangkutan dalam kolom “biaya bahan baku” sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan tersebut.

Hasil Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Terhadap Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya Terjadi. Jika sisa bahan tidak dapat diidentifikasikan dengan pesanan tertentu, dan sisa bahan merupakan hal yang bisa terjadi dalam proses pengerjaan produk, maka hasil penjualanya dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa bahan adalah sebagai berikut :
            Kas/Piutang Dagang                                                   xxx
                        Biaya Overhead pabrik sesungguhnya                                   xxx
Hasil Penjualan Sisa bahan Diperlakukan Sebagai Penghasilan Diluar Usaha (Other Income). Dalam dua perlakauan terhadap sisa bahan tersebut diatas, hasil penjualan sisa bahan digunakan untuk mengurangi biaya produksi. Hasil penjualan sisa bahan dapat pula diperlakuakan sebagai penghasilan diluar usaha dan tidak sebagai pengurang biaya produksi. Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa bahan adalah sebagai berikut :
            Kas/Piutang Dagang                                                   xxx
                        Hasil Penjualan Sisa bahan                                        xxx
Hasil penjualan sisa bahan disajikan dalam laporan rugi laba dalam kelompok penghasilan Di Luar Usaha (Other Income).

2.        PRODUK RUSAK (SPOILED GOODS)
Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Produk rusak berbeda dengan sisa bahan karena sisa bahan merupakan bahan yang mengalami kerusakan dalam proses produksi, sehingga belum sempat menjadi produk, sedangkan produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhed pabrik.
            Perlakuan terhadap produk rusak adalah tergantung dari sifat dan sebab terjadinya.
  1. Jika produk rusak terjadi karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau faktor luar biasa yang lain, maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan.
  2. Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produksi secara keseluruhan, dengan cara memperhitungkan kerugian tersebut di dalam tarif biaya overhed pabrik. Oleh karena itu, anggaran biaya overhead pabrik yang akan digunakan untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik terdiri dari elemen-elemen berikut ini:
Biaya bahan penolong                                                     xxx
Biaya tenaga kerja tak langsung                                     xxx
Biaya reparasi dan pemeliharaan                                    xxx
Biaya asuransi                                                                 xxx
Biaya Overhead pabrik lain                                              xxx
Rugi produk rusak (hasil penjualan – hpp rusak)            xxx
Biaya overhead pabrik yang dibebankan                         xxx
Dan tarif biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus berikut ini :
                                                                        BOP yang dianggarkan
            Tarif biaya overhead pabrik = ­­­­­­­                                              
                                                                            Dasar pembebanan
Jika terjadi produk rusak, maka kerugian yang sesungguhnya terjadi didebitkan dalam rekening BOP Sesungguhnya,

3.        PRODUK CACAT (DEFECTIVE GOODS)
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomi dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.
Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambahan untuk pengerjaan kembali (works cost) produk tersebut. Perlakuan terhadap biaya pengerjaan kembali produk cacat adalah mirip dengan yang telah dibicarakan dalam produk rusak (spoiled goods).
Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pengerjaan produk, maka biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada seluruh produksi dengan cara memperhitungkan biaya pengerjaan kembali tersebut ke dalam tarif biaya overhead pabrik. Biaya pengerjaaan kembali produk cacat yang sesungguhnya terjadi didebitkan dalam rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

Sumber:
My Documents\Biaya Bahan Baku.docx
Kelompok Akuntansi Biaya || Ardy Novian, Aulia Akbar, Citra Ayuananda, Dani Furqon, Edy Muharom, Erlyin Yunita, Nurul Hadi, Prasetyo Utomo || 2EB12

0 komentar:

Poskan Komentar