Selasa, 24 Mei 2011

KUR Memakmurkan Kelompok Tani

Masalah klasik dan laten yang dihadap petani adalah kelangkaan pupuk ketika masa merapuk. Ironisnya hasil panennya tidak dihargai sebagaimana layaknya, sehingga hanya mampu menutup biaya produksi, bahkan sebagian besar merugi. Di sisi lain, ulah tengkulak yang mempermainkan harga telah semakin memperburuk kemampuan petani.
“Petani itu sekarang tambah susah. Pupuk mahal, begitu panen harganya murah banget,” Kata Sapari, pria asal klaten Jawa Tengah itu menjelaskan.
Keadaan ini hampir menimpa seluruh petani di Desa Ambarawa, Kec. Ambarawa, Kab. Tanggamus, Lampung. Di tengah kesulitan ini para petani menyatukan tekad untuk benar-benar bersatu padu dan bergotong royong dalam mengahapi kesulitan itu.
Inisiatif ini yang awalnya dimotori oleh Sapari, dengan mendirikan koperasi kelompok tani sebagai wadah untuk mengakomodir kebutuhan petani. Tahun 2002 akhirnya kelompok tani ini berdiri dengan modal dari anggota sebesar Rp. 5.500.000.- dengan nama Koperasi Kelompok Tani Tunas Jaya dan beranggotakan 72 orang.
Koperasi ini didirikan dengan tujuan untuk menyediakan pupuk buat anggota koperasi, menyediakan bibit pertanian dan membeli sekaligus menjual hasil produk pertanian para anggota. Ketiga hal inilah yang menjadi dasar berdirinya koperasi. Sebab selama ini yang terjadi petani mengalami kesulitan pembelian pupuk dan mahalnya harga pupuk jika membeli secara perorangan. Di tengah himpitan ekonomi yang dialami anggota, tak jarang petani yang menjual padi disaat harga benar-benar anjlok. Dengan adanya koperasi ini, petani dapat menjual padi kepada koperasi dengan harga yang relative normal.
Pembentukan pola kemitraan antara KSU dan para petani ini selain untuk melindungi petani-petani dari aksi tengkulak, juga dimaksudkan untuk memberikan penguatan skill dan pengetahuan dalam hal budidaya pertanian.
Program kemitraan ini berbentuk dalam pola binaaan terhadap para petani yang bergerak dalam sektor budidaya pertanian. Dalam program binaaan tersebut, KSU memfasilitasi para petani dengan program penguatan, yang meliputi program pemasaran, pola penanaman, program alih teknologi dan lain sebagainya.
Namun demikian modal yang dikumpulkan dari anggota tidak mampu mengakomodir segala kebutuhan anggota. Dengan modal sebesar itu hanya mampu menyedikan 10 persen kebutuhan anggota petani. “dengan modal koperasi sebesar itu, sangat tidak mampu memenuhi anggota.” Pak Sapari menjelaskan.
Bulan Mei tahun 2008 perubahan cukup signifikan dapat dirasakan kelompok tani ini dengan didapatkan kredit Program KUR lewat Bank Mandiri Metro, Lampung sebesar Rp.180.000.000.-dengan modal usaha mengembangkan koperasi kelompok tani tersebut kebutuhan tiga hal penting yang menjadi tujuan didirikannya koperasi ini relative tercukupi.
Segala bentuk bagi hasil dan pembayaran kepada pihak bank menjadi tanggungjawab bersama. Karena sebelum menjadi anggota, mekanisme perekrutan anggota kelompok tani ini berdasarkan legal formal, dituangkan dalam perjanjian antar anggota yang diketahui oleh bank bersangkutan.
Bank Mandiri secara aktif mengontrol secara stimulant dalam jangka waktu 3 bulan sekali. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya membangun semangat para petani untuk lebih meningkatkan hasil pertaniannya. Melihat hasil kerja petani setelah menerima kredit KUR cukup bagus, pihak Bank Mandiri berjanji untuk kedepannya memberikan kredit non KUR sebagai tambahan modal pertanian.
Hamzan, Petugas Kredit dari Bank Mandiri, menuturkan, “Al-hamdulillah untuk menyetorkan pembayaran Kredit tiap bulannya ke Bank tak ada masalah, selalu tepat waktu”.
Lebih lanjut Bapak Thephani JS (SBDC Metro) mengungkapkan bahwa, pihak Bank Mandiri selama ini memberikan kredit melalui program kemitraan. Dalam hal ini melalui Koperasi/KSU. Seperti KSU Perikanan dan Pertanian Karya swadiri dan Kelompok Tani Tunas jaya. Hal ini dimaksudkan memudahkan akses sekaligus pengontrolan ke bawah.

Sumber: Kementrian Negara Koperasi dan UKM

0 komentar:

Poskan Komentar